suaranurani.com | MALANG – Seniman Putu Wardhani, sekaligus Staf Kependidikan Program Studi Visual Communication Design Universitas Ciputra Surabaya, menghadirkan pameran tunggal bertajuk “Ambarasa Nusantara: Aroma, Arca, dan Jejak Peradaban” yang berlangsung sepanjang 1–30 Juni 2026 di Soga Too – Titik Koma, Malang.
Pameran ini merupakan bagian dari program kolaborasi Toogether, sebuah inisiatif yang mempertemukan ruang usaha dan pelaku seni untuk menciptakan ekosistem kreatif yang berkelanjutan bagi para perupa dan seniman lokal.
Melalui karya-karya berbasis medium kopi, Putu Wardhani mengajak publik menyusuri jejak peradaban Nusantara melalui representasi arca, artefak budaya, dan figur-figur historis yang menjadi bagian dari memori kolektif bangsa.
Berangkat dari ketertarikannya pada sejarah dan seni, Putu menjadikan kopi tidak hanya sebagai medium visual, tetapi juga sebagai medium naratif yang menyimpan jejak waktu. Aroma, tekstur, dan gradasi warna alami kopi menghadirkan pengalaman yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masa kini.
Pameran ini mendapat pengantar kuratorial dari Agus “Koecink” Sukamto, seniman dan penulis seni rupa asal Surabaya. Dalam pandangannya, praktik artistik Putu Wardhani memperlihatkan upaya yang konsisten dalam merawat dan menghidupkan kembali warisan budaya Nusantara melalui pendekatan visual yang personal dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Arca-arca Nusantara seperti Garuda, Durga, Ganesha, hingga figur-figur sejarah dihadirkan bukan sebagai objek museum yang diam, melainkan sebagai simbol hidup yang terus berbicara mengenai identitas, spiritualitas, dan perjalanan panjang bangsa Indonesia.
Melalui “Ambarasa Nusantara”, Putu Wardhani merayakan arca dan warisan Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan refleksi yang tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Setiap goresan kopi menjadi upaya menghadirkan kembali memori budaya yang perlahan terlupakan, sekaligus mengajak masyarakat untuk melihat sejarah bukan sebagai sesuatu yang jauh dan usang, melainkan sebagai bagian yang terus membentuk jati diri bangsa hingga hari ini.
Penyelenggaraan pameran ini tidak terlepas dari dukungan Soga Too – Titik Koma sebagai ruang kolaboratif yang membuka kesempatan bagi seniman untuk bertemu dengan publik yang lebih luas.
Melalui program Toogether, Soga Too, The Shalimar Boutique Hotel Malang berkomitmen menghadirkan ruang apresiasi bagi para pelaku seni dan industri kreatif.
Kartika Chandra Hapsari, selaku Corporate Branding Manager The Shalimar Boutique Hotel Malang, menyampaikan bahwa program Toogether lahir dari keyakinan bahwa ruang-ruang publik memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan seni dan budaya lokal.
“Melalui program Toogether, kami ingin menghadirkan ruang yang dapat mempertemukan karya, seniman, dan masyarakat. Soga Too kami hadirkan bukan hanya sebagai ruang komersial, tetapi juga sebagai wadah bagi para artist, khususnya di Kota Malang, untuk memamerkan karya mereka agar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Kami percaya bahwa seni memiliki kemampuan untuk membangun dialog, memperkaya pengalaman publik, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah,” ujar Kartika Chandra Hapsari.
Bagi Putu Wardhani, kopi dan sejarah memiliki kesamaan: keduanya meninggalkan jejak. Melalui aroma, tekstur, dan rupa yang lahir dari medium kopi, pameran ini menjadi penghormatan terhadap kekayaan warisan Nusantara sekaligus ajakan untuk terus merawat ingatan kolektif bangsa agar tetap hidup lintas generasi.
“Melalui kopi, saya ingin menghadirkan kembali jejak-jejak peradaban Nusantara yang sering kita lihat sebagai masa lalu. Bagi saya, arca bukan sekadar artefak, melainkan suara leluhur yang masih relevan untuk dibaca, dirawat, dan dirayakan hari ini,” ungkap Putu Wardhani.
Pameran “Ambarasa Nusantara: Aroma, Arca, dan Jejak Peradaban” dapat dikunjungi oleh publik selama periode pameran di Soga Too – Titik Koma, Malang, dan menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, seni, serta kehidupan kontemporer melalui bahasa visual yang unik dan sarat makna. (acs)

