suaranurani.com | YOGYAKARTA – Penceramah, Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah menggelar acara Open House dan Pesta Rakyat yang diselenggarakan di kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji, Kalasan, Yogyakarta, pada 25-26 Maret 2026.
Acara tersebut digelar dalam suasana hari raya Idul Fitri 2026, dan dipadati ribuan warga yang datang untuk bersilaturahmi di Ponpes Ora Aji.
Dalam kesempatan itu, Gus Miftah menuturkan acara ini merupakan bentuk rasa syukur sekaligus komitmen untuk terus dekat dengan masyarakat.
“Ini bukan sekadar tradisi, tapi bagian dari cara kami merawat hubungan dengan warga,” kata Gus Miftah.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan penuh kebahagiaan,” sambungnya.
7.500 Orang Datang untuk Bersilaturahmi
Diketahui, tradisi tahunan ini telah dikenal sebagai perayaan rakyat yang sarat makna.
Suasana ramai tampak sejak pagi hari, terlihat antrean warga tampak mengular dengan penuh tertib.
Pada hari pertama, sekitar 5.000 orang hadir meramaikan acara.
Kemudian, angka tersebut meningkat signifikan pada hari kedua hingga mencapai kurang lebih 7.500 pengunjung.
Kendati demikian, lonjakan jumlah itu tak mengurangi kenyamanan dan kekhidmatan suasana.
Hidangan Jajan Tradisional hingga THR
Pada momen itu, panitia tampak dengan sigap memastikan seluruh tamu terlayani, mulai dari penyediaan makanan hingga pengaturan alur kunjungan.
Beragam hidangan khas disajikan secara gratis, mulai dari makanan berat hingga jajanan tradisional yang menggugah selera.
Tak hanya itu, Gus Miftah juga membagikan tunjangan hari raya (THR) yang disebutnya sebagai ‘uang kasih sayang’ kepada para tamu.
Gus Miftah memastikan, hal tersebut menjadi sebuah simbol kepedulian yang sederhana namun bermakna mendalam bagi masyarakat.
Antusiasme Warga di Lokasi
Bagi warga sekitar, momen tersebut memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar menikmati hidangan atau menerima bingkisan.
Seorang warga setempat, Sunaryo (56) menuturkan, kehadiran ribuan warga dalam acara tersebut sebagai bentuk kedekatan emosional dengan sosok Gus Miftah yang dikenal merakyat.
Sunaryo menilai, suasana yang tercipta terasa begitu personal dan menyentuh hati.
“Rasanya seperti datang ke rumah keluarga sendiri. Tidak ada jarak. Gus Miftah selalu membuat kami merasa dihargai,” tuturnya.
Hal serupa, juga dirasakan oleh Ngatini (52). Ia menilai, perhatian yang diberikan jauh lebih berharga daripada materi yang diterima.
“Yang bikin kami bahagia itu bukan hanya apa yang dibagikan, tapi bagaimana kami diperlakukan. Hangat, tulus, dan penuh perhatian,” terang Ngatini.
Berkaca dari hal itu, tak heran jika banyak warga rela datang dari pagi dan bertahan hingga siang hari dalam Pesta Rakyat di Ponpes Ora Aji. (ist)

