suaranurani.com | JAMBI – Seorang guru Bahasa Inggris, Agus Saputra di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak jadi sosok yang ramai diperbincangkan di media sosial (medsos) usai diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengalami luka memar di bagian badan dan pipi akibat berbagai pukulan oleh sejumlah siswa.
Terkini, seorang siswa berinisial MLF yang diduga terlibat dalam kasus pengeroyokan terhadap guru tersebut membeberkan kronologi awal hingga akhirnya berujung pengeroyokan.
Kronologi versi Siswa: Ogah Dipanggil ‘Bapak’
Dalam unggahan Instagram @pembasmii.kehaluan, pada Sabtu, 17 Januari 2026, MLF menuturkan ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir selesai.
“Situasi kelas yang bising membuat MLF spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam,” demikian penuturan dalam postingan tersebut.
MLF mengaku terkejut saat guru tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.
“Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya ‘siapa yang bilang woi?’ begitu,” tutur MLF.
“Terus saya jawab ‘saya Prince’ kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar,” imbuhnya.
Di samping kasus itu, penggunaan panggilan ‘Prince’ ternyata merupakan permintaan khusus dari sang guru itu sendiri.
MLF menjelaskan, guru tersebut kerap marah jika disapa dengan sebutan Bapak’ dan lebih memilih dipanggil dengan sebutan tersebut.
Siswa Tekankan Pengeroyokan Itu Aksi Spontan
Siswa SMK di Jambi itu menuturkan, puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh pihak komite sekolah tersebut.
MLF mengklaim, sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa.
“Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua,” terang MLF.
Siswa SMK itu menekankan, aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian h1dung saat berada di area kantor.
“Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia. Sebenarnya kalau enggak ada dia meninju duluan, enggak ada pengeroyokan itu,” tegas MLF.
Berkaca dari hal itu, sebelumnya Agus selaku guru yang terlibat dalam kasus ini, sempat membeberkan kronologi menurut versinya.
Kronologi versi Guru: Menegur karena Tak Hormat
Dalam unggahan Instagram @jambisharing, pada Kamis, 15 Januari 2026, Agus mengungkapkan dirinya sempat menegur para siswa yang tidak bersikap hormat padanya.
“Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar,” kata Agus mengawali ceritanya.
Agus menilai, kata-kata itu sangat merendahkan martabatnya sebagai tenaga pendidik.
Agus kemudian mendatangi kelas asal suara tersebut dan meminta pelaku mengakui perbuatannya.
Salah satu siswa mengaku, namun situasi justru memanas. Agus menyebut siswa tersebut menantangnya, hingga ia secara refleks menampar siswa itu satu kali.
“Itu refleks, satu kali tamparan. Itu awal kejadiannya,” ujar Agus.
Berdasarkan rekaman video yang beredar memperlihatkan ketegangan meningkat hingga terjadi aksi saling pukul.
Situasi sempat diredam setelah guru-guru lain melakukan mediasi.
Tudingan Menghina Siswa dengan Sebutan ‘Miskin’
Dalam kasus ini, sejumlah siswa sempat menuding Agus menghina seorang siswa dengan kata ‘miskin’.
Perihal itu, Agus membantah tudingan tersebut dan menyebut ucapannya disampaikan dalam konteks motivasi.
“Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum,” terangnya.
“Saya mengatakan, ‘kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam’. Itu secara motivasi pembicaraan,” jelas Agus.
Dalam proses mediasi, Agus sempat memberikan pilihan kepada siswa untuk membuat petisi jika tidak menginginkannya mengajar lagi.
Kendati demikian, siswa justru meminta Agus meminta maaf. Mediasi tersebut berakhir buntu.
Situasi kembali memanas saat jam istirahat. Sejumlah siswa dari berbagai angkatan melakukan aksi solidaritas yang berujung pengeroyokan terhadap Agus, termasuk pelemparan batu.
“Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan,” ungkap Agus.
Merasa menjadi korban kekerasan, Agus mengaku masih mempertimbangkan langkah hukum.
Guru SMK di Jambi itu merasa berat melaporkan para siswa ke polisi karena mempertimbangkan masa depan dan kondisi psikologis mereka.
“Saya merinding kalau harus melapor ke polisi. Mereka ini anak didik saya, masih sekolah dan secara psikologis butuh bimbingan,” tutup Agus.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun otoritas setempat ihwal kasus kekerasan antara guru dan para siswanya di SMK Jambi tersebut.(ist)

