suaranurani.com | JAKARTA – Indonesian Corruption Watch (ICW) menilai bahwa kini mulai terlihat kebangkitan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang gencar lagi mengusut kasus korupsi.
Hal tersebut diungkap oleh aktivis ICW, Almas Sjafrina dalam tayangan podcast bersama Bambang Widjojanto.
Sebelumnya, Bambang menyebut bahwa lembaga survei Great Institute mengapresiasi upaya pemberantasan korupsi di era Presiden Prabowo saat ini
Di sisi lain, kata Bambang, lembaga tersebut juga memberi catatan kepada Prabowo agar pemberantasan korupsi harus lebih ditingkatkan.
ICW: Sempat Ada Penurunan Signifikan Penindakan Korupsi di 2024
Almas mengungkapkan bahwa tak heran jika muncul apresiasi kepada langkah pemberantasan korupsi di era Prabowo karena di tahun 2024, ada penurunan yang cukup signifikan soal pemberantasan korupsi.
“Di tahun-tahun yang sebelumnya sangat terstruktur sekali misal pelemahan KPK yang berdampak pada penindakan juga,” ucap Almas dalam video yang diunggah di kanal YouTube Bambang Widjojanto pada Selasa, 11 November 2025.
“Makanya, di tren penindakan kasus korupsi, terakhir yang kami publish di tahun 2024 itu trennya memang turun dibandingkan di tahun sebelumnya,” lanjutnya.
Almas menambahkan bahwa data tren tersebut menunjukkan penurunan kasus yang ditindak oleh aparat penegak hukum, di mana tak hanya KPK, tetapi dari Kepolisian dan Kejaksaan.
KPK Seperti Macan yang Baru Bangun Tidur
Usai penurunan penindakan korupsi di tahun sebelumnya, menurut Almas kini menjadi momen KPK kembali menunjukkan taringnya.
“Makanya, sekarang setelah KPK, Kejaksaan mulai genjot lagi menindak kasus korupsinya, KPK kelihatan sekali baru ‘bangun tidur’ meski belum sepenuhnya bangun karena kasusnya belum tuntas,” ujar Almas lagi.
“Jangan sampai baru mau jadi macan, balik lagi jadi meong. Mungkin apresiasi itu menunjukkan juga yang sebelumnya sedemikian parahnya kemunduran-kemunduran sektor anti korupsinya,” paparnya.
ICW Singgung soal Perbaikan Internal KPK
Dalam kesempatan itu, Almas juga menyebut ada perbaikan yang dilakukan KPK dari sisi internalnya sendiri.
“Ini Pak Prabowo juga baru 1 tahun, paling nggak (dibandingkan) 1 tahun sebelumnya dan kalau bicara KPK, kan nggak hanya soal pemerintah sebelumnya tapi dilihat juga pergantian komisionernya,” sambungnya.
“Ini komisioner baru, saya nggak tahu KPK mulai menunjukkan taringnya lagi walaupun belum tajam-tajam amat karena faktor pemerintahan baru atau faktor komisioner, atau kedunya,” terangnya.
Pemberantasan Korupsi Makin Optimal dari Dukungan Publik
Bambang kemudian menambahkan bahwa beberapa waktu terakhir, ada dukungan besar dari publik dalam pemberantasan korupsi.
“Memang paling menarik itu partisipasi publik, dukungan publik terhadap upaya dan ikhtiar pemberantasan korupsi luar biasa dahsyatnya,” kata Bambang.
Oleh karena itu, kepercayaan publik perlu didapatkan kembali oleh pihak-pihak yang terkait dalam upaya pemberantasan korupsi.
“Trust dari publik itu menurut saya, tidak akan mungkin pemberantasan korupsi dilakukan optimal kalau tidak ada gerakan sosial anti korupsi yang melibatkan secara sistematis dan sengaja atau kelompok dari masyarakat,” tuturnya.
Prabowo dan Upaya Pemberantasan Korupsi
Prabowo gencar menggaungkan pemerintahan yang bersih dan tidak ada praktik penyelewengan dalam jajarannya.
“Saat saya ambil alih pemerintahan, saya semakin kaget, saya tidak menduga parahnya korupsi tersebut. Tapi saya bertekad untuk menegakkan pemerintahan yang bersih,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan di Munas PKS di Hotel Sultan, Jakarta Pusat pada 29 September 2025 lalu.
“Hanya dengan pemerintah yang bersih, Indonesia bisa bangkit,” imbuhnya.
Sayangnya, menurut Prabowo, mereka yang masih berada di jalan yang lurus kalah cerdik dengan koruptor.
“Kekayaan kita luar biasa, tapi kita harus akui kelemahan dari elite kita. Kelemahan dari mereka yang kita anggap pintar dan cemerlang, ternyata kalah pintar dengan koruptor, penipu, dan manipulator,” lanjutnya.
Dalam tindakan korupsi tersebut, kata Prabowo adalah bentuk dari perampokan sistemik.
“Sistem yang dibuat dan kelengahan elite kita selama ini, sehingga kekayaan kita terkeruk,” ucapnya.
“Mereka ingin menghentikan pembangunan dan kebangkitan ekonomi Indonesia, mereka ingin meneruskan paradoks yang kita alami sekarang. Kekayaan begitu besar hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, ini yang akan saya lawan,” tegasnya kala itu. (ist)

