suaranurani.com | YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menghadirkan program bedah rumah kepada masyarakat kurang mampu untuk memperbaiki kualitas huniannya.
Program kali ini digelar pada Minggu, 17 Mei 2026 di dua lokasi berbeda, yakni di Pandeyan, Umbulharjo dan Ngampilan.
Adapun di Pandeyan, bedah rumah dilakukan di rumah milik Dwi Wulandari dan di Ngampilan dilakukan di rumah Emiliana Budi Winarti.
Penyerahan Bantuan Langsung oleh Wali Kota Yogyakarta
Bedah rumah yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu ini juga menjadi bentuk gotong royong dan kepedulian sosial.
Program bedah rumah ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.
Dalam kesempatan tersebut, selain memimpin jalannya program, Hasto juga menyerahkan bantuan secara simbolis kepada para penerima manfaat.
Lebih lanjut, rumah milik Dwi Wulandari merupakan bantuan renovasi yang diberikan melalui dukungan Perseroda BPR Bank Jogja.
Sedangkan rumah milik Emiliana Budi Winarti mendapatkan bantuan renovasi dari Baznas Kota Yogyakarta.
Renovasi Menggunakan Atap Ramah Lingkungan
Hasto menyebut bahwa program bedah rumah bukan hanya sekadar memperbaiki bangunan fisik rumah warga, tetapi juga menjadi upaya menghadirkan hunian yang sehat, aman, dan layak bagi masyarakat.
“Rumah yang layak akan mendukung kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Karena itu program seperti ini akan terus kita dorong melalui kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya dikutip dari laman resmi Pemkot Yogyakarta pada Senin, 18 Mei 2026.
Renovasi yang dilakukan pun mengusung inovasi ramah lingkungan, yakni atap atau genting yang digunakan berasal dari limbah daur ulang.
Material yang digunakan terbuat dari berbagai sampah bekas seperti botol plastik, kemasan minuman, hingga bungkus saset yang selama ini banyak ditemukan di lingkungan masyarakat.
Jamin Atap Daur Ulang Berkualitas
Meski terbuat dari sampah yang telah didaur ulang, Hasto memastikan bahwa kualitas genting rumah sudah teruji.
Genting berbahan limbah daur ulang tersebut sangat kuat dan aman digunakan sebagai material bangunan rumah.
“Ini bukan barang murahan atau kualitas rendah. Justru sudah melalui proses pengujian dan kualitasnya bagus. Bahkan ada garansi sampai 10 tahun,” tegasnya.
Senada dengan Hasto, Prima Kurniawan sebagai perwakilan PT JOS yang merupakan produsen atap menyatakan bahwa ketahanan dan kualitasnya sudah melalui berbagai tahapan pengujian.
“Material ini sudah diuji dan terverifikasi. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kualitasnya,” ungkap Prima.
Manfaat lain yang didapat selain mengurangi limbah plastik, atap hasil daur ulang juga diklaim mampu meredam panas dan suara air hujan, sehingga membuat hunian jadi lebih nyaman.
Sementara dari sisi ekonomi, Hasto menyebut bahwa limbah sampah yang digunakan dibeli langsung oleh PT JOS dari masyarakat Kota Yogyakarta.
“Ini menjadi bukti bahwa sampah kalau dipilah dengan baik bisa membawa berkah bagi masyarakat. Maka saya minta masyarakat terus membiasakan memilah sampah dari rumah tangga,” tukas Hasto. (ist)

