suaranurani.com | SALATIGA – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan usai protes yang dilayangkan dari Kepala Sekolah SDN Dukuh 5 Kota Salatiga atas menu Ramadan yang diterimanya.
Kepala sekolah bernama Jumarti itu dengan tegas menolak makanan MBG dan meminta petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melakukan perbaikan.
Dalam video yang salah satunya diunggah oleh akun TikTok @kabarin.aja, Jumarti membeberkan telah berulang kali mendapatkan makanan MBG yang tak layak.
“Ini tolong diambil dan saya tidak mau terima, saya sudah berkali-kali mbak,” ucapnya, dikutip dari video tersebut pada Senin, 2 Maret 2026.
Temukan Makanan Tak Layak dalam Menu MBG
Jumarti mengatakan kalau makanan yang datang sudah berulang kali dalam kondisi tak layak untuk dimakan.
“Pertama ada ulatnya, ahli gizi bagaimana? Ada sekrupnya, ahli gizi bagaimana? Sekarang ada seperti ini. Ini sudah telak, jelek sekali,” ujarnya dengan lantangnya.
“Anak saya kalau meninggal gimana Mbak, dikasih (makanan) busuk seperti ini?” imbuhnya.
Buah jeruk yang dibagikan oleh pihak SPPG, kata Jumarti juga sudah dalam keadaan busuk, sehingga tak layak untuk dimakan anak-anak sekolah.
“Jeruk busuk saya tidak beli, walaupun semiskin-miskinnya orang sini, jeruk busuk mau, nggak?” tegasnya.
Soroti Harga Makanan MBG
Jumarti juga menyoroti harga per porsi MBG yang diberikan dengan menguliti setiap menu yang diberikan.
Seperti roti, Jumarti menyebut bahwa harga sebenarnya bisa dibeli Rp750, tetapi oleh pihak SPPG disebutkan seharga Rp3.500.
“Anda bilang ini (roti) berapa? Saya ini pedagang, ini di sana Rp750 karena saya biasa ambil di pabriknya, ini sama. Kalau dijual Rp3.500, berapa keuntungannya?” lanjutnya.
Lebih lanjut, kemarahannya memuncak karena selain orang tua siswa, ia juga menerima komplain dari para guru tentang menu MBG.
Ingatkan MBG Berasal dari Pajak Rakyat
Dalam kesempatan tersebut, Jumarti ikut mengingatkan bahwa MBG merupakan program yang pendanaannya diambil dari APBN.
“MBG jangan dianggap gratis, Rp15.000 itu dari pajak rakyat, dari guru. Gajinya pada dipotong, tau nggak? Gaji kami yang dulu dipotong 15 persen sekarang 16 persen, yang kemarin 5 persen, sekarang 6 persen karena untuk MBG,” terangnya.
“Kayak gitu kok dikasih begini. Gimana? Mau saya laporkan ke satgas karena saya punya bukti dan video,” sambungnya.
Ia juga menegaskan bahwa pihak SPPG harus memperbaiki kinerjanya ke depan.
“Bagaimana? Mau beri yang terbaik atau saya pindah? Kalau beri yang terbaik, akan dinilai terus. Jangan main-main, saya udah 3 kali 4 kali komplain,” tegasnya.
Video Lama untuk Bukti dan Dokumentasi Internal
Adapun video viral tersebut rupanya diambil pada 24 Februari 2026 dan disebut sebagai bukti internal.
Jumarti mengaku bahwa saat itu memang sengaja di video agar memiliki bukti dan dokumen internal. Ia mengaku bingung ketika video tersebut kini viral di media sosial.
Menurut penuturannya, setelah kejadian tersebut pihak SPPG sudah memperbaiki kualitas, baik pelayanan maupun menu yang dibagikan.
“Tujuan saya itu adalah agar SPPG itu berbenah. Tidak saya yang memberikan masukan terus. Ini sudah terjadi ya harus dihadapi,” tandasnya. (ist)

