suaranurani.com | PALANGKA RAYA, KALIMANAN TENGAH – Sebagian publik di media sosial, tengah ramai menyoroti gelombang protes warga terhadap pemadaman listrik bergilir di wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Dalam video yang beredar, tampak massa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) menyegel sementara Kantor PLN UP3 Palangka Raya di Jalan Ahmad Yani.
Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk kekecewaan atas belum tuntasnya persoalan listrik yang dinilai telah merugikan masyarakat.
Pada momen itu, massa sempat memasang spanduk bertuliskan “Kantor Ini Disegel Masyarakat” di pintu gerbang kantor PLN.
Hal yang turut menyita perhatian, yakni massa aksi juga menebarkan puluhan bangkai ayam di halaman hingga badan jalan.
“Demonstrasi itu diiringi dengan aksi membuang bangkai ayam di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya,” tulis postingan Instagram @feegramindo, pada Kamis, 30 Juli 2026.
Derita Warga Imbas Pemadaman
Berdasarkan laporan di lapangan, bangkai ayam tersebut menjadi simbol kerugian yang dialami para peternak akibat pemadaman listrik yang berulang dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam aksi tersebut, sejumlah peternak ayam yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Kalimantan Tengah ikut menyuarakan keluhan mereka.
Mereka membawa bangkai ayam yang mati akibat padamnya listrik, terutama karena sistem kandang tidak dapat beroperasi secara normal.
Salah seorang peternak bernama Arif mengaku kerugian yang dialami bukan hanya dari matinya ayam, tetapi juga berdampak terhadap para pekerja yang kehilangan penghasilan.
“Anak buah menangis karena kehilangan ayamnya, kehilangan gaji. Seandainya penderitaan ini ada di bapak, seperti apa sakitnya bapak,” ujarnya di hadapan massa.
Listrik Mati, Peternak Merugi
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pinsar Kalimantan Tengah, Andi Bustan mengatakan pemadaman listrik yang terus berulang membuat peternak mengalami kerugian besar, terutama saat memasuki masa panen.
Andi menilai, hingga aksi hari kedua berlangsung, para peternak belum juga dipertemukan dengan General Manager PLN untuk mendapatkan kepastian solusi.
Sementara itu, perwakilan Aliansi GPG Fiteli menilai ketidakhadiran pimpinan tertinggi PLN UID Kalselteng mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap aspirasi masyarakat Kalimantan Tengah.
Fiteli menegaskan masyarakat datang bukan untuk diwakili pejabat lain, melainkan ingin mendengar penjelasan langsung dari pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
“Kami datang meminta solusi, bukan dianggap remeh. Seharusnya General Manager hadir menemui masyarakat,” tegasnya.
Di lain pihak, PLN sebelumnya telah menjelaskan pemadaman bergilir bukan disebabkan kekurangan pasokan energi listrik, melainkan akibat gangguan teknis pada sejumlah pembangkit yang terhubung dalam Sistem Interkoneksi Kalimantan.
PLN Angkat Bicara
Secara terpisah, General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menjelaskan gangguan bermula setelah generator di PLTU Asam-Asam mengalami kerusakan.
Selain itu, dua unit pembangkit milik Independent Power Producer (IPP) juga mengalami kebocoran pada pipa boiler dan turbin sehingga kemampuan memasok daya ke sistem menurun.
Akibat kondisi tersebut, PLN menerapkan pengaturan beban secara terbatas di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah guna menjaga keandalan sistem kelistrikan selama proses pemulihan berlangsung.
“PLN menyatakan seluruh personel telah diterjunkan untuk mempercepat perbaikan pembangkit yang mengalami gangguan,” kata Iwan dalam keterangannya, pada Rabu, 29 Juli 2026.
“Perusahaan juga meminta masyarakat menghemat penggunaan listrik, terutama pada pukul 18.00 hingga 21.00 WIB, serta menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama pemadaman bergilir berlangsung,” tandasnya.(ist)

